Judulbuku: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Judul asli buku:The Subtle Art Of Not Giving A F*ck Pengarang: Mark Manson Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Dalam novel "Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat" ini ada 3 seni yang menggambarkan bagaimana seseorang tersebut memang harus bersikap bodo amat akan sesuatu hal. IDENTITASBUKU Judul Buku : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Penulis Buku : Mark Manson Penerjemah : F. Wicaksono Penerbit Buku : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Tahun Terbit : 2018 Tebal Halaman : 246 Halaman Harga Buku : Rp. 67.000,00 ISI BUKU Buku karya Mark Manson ini memberikan perspektif yang baru bagaimana SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMAT Read More » Megabest seller abad ini : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Book Review) Kunci dari seni pertama adalah masa bodoh terhadap segala halangan dan perjuangan dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Seharusnya kita hadapi dan nikmati saja karena dalam mengejar suatu pencapaian, pasti ada saja rintangan yang muncul. ï»żSebuahSeni Untuk Bersikap Bodo Amat: Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik menyajikan kisah-kisah inspiratif yang sangat cocok untuk pengembangan diri yang mewakili generasi saat ini. Mark Manson memberitahu kunci menjadi orang yang lebih kuat dengan mengajak pembaca untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, baginya inilah sumber kekuatan yang paling nyata. Dịch VỄ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Judul Asli The Subtle Art Of Not Giving F*ck Judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Penulis Mark Manson Penerjemah F. Wicaksono Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Cetakan ke-3 Tahun Terbit 2018 Tempat Terbit Jakarta ISBN 978-602-452-698-6 Tebal 246 halaman Harga Rp Rating ⭐ Awal membaca judul buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat atau The Subtle Art Of Not Giving F*ck, saya langsung mengerutkan kening dan berpikir bahwa buku ini memakai kata-kata yang cenderung vulgar, kasar f*uck, dan tidak memberi nilai-nilai dan pengaruh yang baik dalam diri. Lantas apa yang membuat buku tulisan Mark Manson tahun 2016 ini dikategorikan ke dalam buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail? Ketika saya menjelajahinya, saya baru menemukan jawabannya. Saya mendapati nilai-nilai kehidupan yang selama ini saya cari dan/atau nilai yang sebenarnya saya rasakan tetapi saya menolak untuk menyadari dan bahkan berusaha untuk mengingkarinya. Kesan itulah yang saya dapatkan dari membaca buku tersebut dan membuat saya ingin berbagi secuil dengan Anda, sahabat blogger. 😊 Judul buku ini menarik dan anti mainstream. Mungkin itu salah satu daya tarik yang membuat orang-orang termasuk saya berminat membacanya. Amat jarang bukan, terdapat buku yang membahas tentang sikap bodo amat. Beberapa buku self improvement justru menyarankan kita untuk selalu peduli, peduli terhadap sesama manusia, peduli terhadap lingkungan, peduli dengan berita yang sedang viral dan hangat dibicarakan agar tidak tertinggal, dan sebagainya. Akan tetapi, buku ini justru mengajak kita untuk bersikap bodo amat. Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat merupakan sebuah buku tentang menemukan apa yang benar-benar penting bagi kita dan melepaskan segala hal lainnya. Saat ini masyarakat menjadikan media sosial sebagai ajang pamer. Kemudian dari hal tersebut lahirlah generasi manusia yang percaya bahwa memiliki pengalaman negatif rasa cemas, takut, bersalah adalah sesuatu yang sangat tidak baik. Ketika melihat feed Facebook, kita akan menjumpai bahwa setiap orang di sana menjalani saat yang menyenangkan sehingga seakan-akan kita akan merasa dibombardir dengan 350 gambar orang-orang yang benar-benar gembira, seperti menikah, berlibur, dan sebagainya. Sementara itu, kita terjebak di rumah. Kita mau tidak mau berpikir bahwa hidup kita sepuluh kali lebih menyebalkan dari yang semua kita kira. Pada akhirnya, kita merasa bersalah atas rasa salah itu sendiri. Kita jadi marah gara-gara amarah yang menyulut. Lalu apa yang salah dengan diri kita? “Inilah mengapa, bersikap masa bodoh, adalah kuncinya. Inilah alasan mengapa itu menyelamatkan dunia. Dan kuncinya adalah jika kita bisa menerima bahwa dunia ini benar-benar keparat dan itu tidak apa-apa, karena memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya. Dengan tidak ambil pusing ketika Anda merasa buruk, berarti Anda memutus Lingkarang Setan; Anda berkata pada diri sendiri, Saya merasa sangat buruk, tapi terus kenapa! Apa pedulimu? ” –hlm 9 Lebih lanjut, Manson memaparkan yang dimaksud dengan bodo amat. “Masa bodo atau bodo amat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.” -hlm 14 Kematian menjadi alasan mendasar mengapa kita harus bodo amat. Kita dan setiap orang yang kita kenal akan meninggal suatu saat nanti. Dan dalam waktu yang singkat itu perhatian yang kita miliki terbatas dan sangat sedikit. Oleh karena jika kita memedulikan setiap hal dan setiap orang tanpa pertimbangan atau pilihan yang matang maka hidup kita tentu akan kacau. Kekuatan buku ini terletak pada isinya. Isinya sangat padat dan terkesan nyleneh, tidak seperti buku pengembangan diri pada umumnya. Ketika membaca buku pengembangan diri, kita akan termotivasi dan merasa baik. Namun, berbeda saat membaca buku Manson, kita akan dibuat tertawa, mengernyitkan dahi, mendengus, dan mungkin menangis. Marson mempercayai tentang hukum berkebalikan milik filsuf Alan Wates. Menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman 10 Inti dari ungkapan tersebut adalah semakin kita berusaha semakin baik setiap saat, kita justru akan merasa semakin tidak puas karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama kita tidak baik. Marson memberi contoh ketika kita semakin mati-matian berusaha ingin kaya, kita justru akan merasa semakin miskin dan tidak berharga. “
..filsuf eksistensial Albert Camus mengatakan, Anda tidak akan pernah bahagia jika Anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan. Anda tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan. Atau dengan kata lain Jangan berusaha.” -hlm 11 Seperti yang saya katakan sebelumnya, buku ini anti mainstream. Jika kita pernah membaca buku pengembangan diri, kita sering menjumpai kata-kata bahwa Anda istimewa!’, Tetaplah menjadi pribadi yang positif!’, Anda luar biasa!’, Jangan Menyerah!’, dan seterusnya. Sebaliknya, di buku Manson kita akan disuguhkan dengan kata-kata yang mungkin tidak ingin kita dengar dan mengakuinya bahwa Anda tidak istimewa!’, Jangan berusaha!’, Kebahagiaan itu masalah’, dan lain-lain. Selain itu, dalam buku-buku self-improvement juga sering kali kita jumpai mengenai kiat-kiat untuk hidup bahagia dan sukses. Di buku ini, kita akan mendapati hal yang sebaliknya, kita akan ditampar dengan pertanyaan yang tidak pernah disadari sebagian besar orang. Bukan pertanyaan Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini?’ melainkan pertanyaan, Rasa sakit apa yang Anda inginkan dalam hidup Anda?’, Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?’, Apa yang membuat Anda berjuang?’, Derita apa yang ingin Anda hadapi?’. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena akan menjadi apa hidup kita nantinya. Inilah pertanyaan yang dapat mengubah sebuah sudut pandang, sebuah kehidupan. Inilah yang menentukan pribadi kita dan yang membedakan kita, serta yang pada ujungnya menyatukan lagi kita semua. Manson mencontohkan rasa sakit atau penderitaan yang dimaksud, seperti adanya kenyataan bahwa sebagian besar orang ingin mendapatkan posisi puncak di perusahaan dan mendapatkan banyak uang namun tidak banyak orang bersedia menderita selama 60 jam minggu kerja, perjalanan pergi pulang kantor yang jauh, dan berkas kerja yang memuakkan. Pada kenyataannya jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu. “Anda harus menentukan pilihan. Anda tidak mungkin memiliki hidup yang bebas dari rasa sakit. Hidup tidak bisa selalu mekar seperti mawar, dan fantastis seperti unicorn. Pertanyaan tentang kenikmatan tergolong mudah karena hampir semua orang punya jawaban serupa”. -hlm 44 Lebih dari sekedar buku panduan praktis untuk memilih mana yang harus diprioritaskan dalam hidup. Di buku ini, saya juga menemukan realitas yang sangat jujur, tidak mengenai kebahagiaan, melainkan rasa sakit, ketakutan, harapan, dan kepastian yang kita terima untuk sukses dan bahagia. Manson menarik kita keluar dari khayalan dan penyangkalan. Dia memaksa kita untuk tidak hanya melihat dan bersembunyi dari kepahitan, tetapi juga menerimanya. Seperti pembahasan mengenai berfikir positif. Dalam bukunya, Mark memasukkan sikap tetap berpositif ke dalam nilai-nilai sampah. “Meskipun ada sebuah ungkapan apa pun yang terjadi, tetaplah optimis, sejatinya, kadang hidup menyebalkan dan hal paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya”.-hlm 98 Tidak sedikit orang yang mengukur hidupnya dengan sejauh mana mereka mampu untuk selalu berpikir positif, seperti ketika kehilangan pekerjaan. Kita berpikir ini bagus dan peluang untuk mengeksplorasi bakat dan minat. Begitupun ketika suami selingkuh. Kita akan berpikir bahwa ini sebagai pembelajaran kalau suami sangat berharga. Manson mengatakan “Saat kita memaksa diri kita untuk tetap positif sepanjang waktu, kita mengingkari kalau keberadaan masalah itu. Dan ketika kita menyangkal masalah kita, kita menihilkan kesempatan kita untuk menyelesaikan masalah dan menjadi bahagia. Permasalahan membuat hidup kita lebih bermakna dan penting. Karena itu menghindari masalah justru menuntun kita kepada suatu kondisi yang hampa makna bahkan meskipun di satu sisi menyenangkan”.- hlm 100 Perlu diketahui bahawa buku self improvement ini diperuntukkan untuk kalangan dewasa 17+ karena ciri khas gaya bahasa Manson yang memang terkesan kurang sopan dan tidak sepatutnya dibaca anak-anak. Selain itu, bahasannya juga cukup berat, mengenai permasalahan orang dewasa yang cukup kompleks. Manson menggunakan sudut pandang yang tidak biasa sehingga jika tidak benar-benar memahami maksud sebenarnya, kita akan mengalami sesat pikir. Namun, jangan khawatir, Manson membungkus tulisannya yang mendalam dan berat dengan cerita humor yang cadas dan menghibur. Ia juga membagikan pengalaman dirinya sendiri dan tokoh-tokoh. Hal itu semata-mata agar dapat membantu para pembacanya memahami tulisannya. Adapun kelemahan dari buku ini adalah beberapa sub-bab bahasan tidak ada klimaks alias kurang mendetail. Selain itu, juga terdapat struktur bahasa yang kurang bagus red. terjemahan dan kesalahan penulisan typo—mengingat buku yang saya pegang sudah cetakan ke-3—sehingga mengganggu kenyamanan pembaca. Kemudian, jika sebelumnya Anda membaca buku lain mengenai pengembangan diri, Anda akan menjumpai kertas yang berwarna-warni, gambar, atau ilustrasi yang berkaitan dengan materi. Akan tetapi, dalam buku ini tidak ada, padat tulisan sehingga hal itu dapat membuat jenuh saat membacanya. Terlepas dari kekurangannya, buku ini sangat cocok bagi Anda yang susah untuk fokus, terlalu memikirkan perkataan orang lain, takut salah, takut mengambil resiko, terlalu peduli dengan masalah orang lain hingga membuat Anda jatuh dan depresi. Membaca dan memahami buku ini akan membantu Anda untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang berbeda. Selain itu, buku ini juga saya rekomendasikan untuk orang-orang yang hidupnya terbilang baik-baik saja dan aman. Keluarlah dari lingkaran setan Anda dan menjadi lebih bijak dalam menjalani kehidupan! Pada akhirnya, seperti kata Manson, “Buku ini tidak akan mengajari Anda bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Ini akan mengajari Anda untuk membuat investaris kehidupan Anda dan menyortir hal-hal yang paling penting saja. Ini akan mengajari Anda untuk memejamkan mata dan percaya bahwa Anda bisa menjatuhkan diri ke belakang dan tetap baik-baik saja”. -hlm 24. Apakah buku ini hanya sekedar bualan? Saya berharap Anda dapat menemukan jawabannya. Selamat membaca dan selamat menyelami rasa sakit Anda! 🙂 IDENTITAS BUKU Judul Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Penulis Buku Mark Manson Penerjemah F. Wicaksono Penerbit Buku PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Tahun Terbit 2018 Tebal Halaman 246 Halaman Harga Buku Rp. ISI BUKU Buku karya Mark Manson ini memberikan perspektif yang baru bagaimana kita bersikap terhadap hidup kita, bagaimana kita memilih mana yang perlu dipedulikan dan mana yang perlu untuk bersikap bodo amat. Mark Mason memulai sebuah prinsip hidup yaitu bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang tidak terlalu penting di kehidupan kita tapi faktanya dalam kehidupan banyak orang. Hal seperti inilah yang justru mengambil sebagian besar perhatiannya dan kemudian membuat mereka untuk menyesali banyak hal dalam kehidupan seperti tekanan, cobaan hidup, penderitaan dan ini membuat hidup kita menjadi tidak efektif bahkan tidak Bahagia. Ide dasar Buku ini adalah kita perlu memiliki kesadaran diri tentang kematian, karena kesadaran seperti ini akan membuat kita memiliki sebuah nilai yang kita rasakan jauh lebih besar dari pada tatanan hidup yang kita dapatkan. karena mereka terbuka terhadap masukan-masukan. Dalam buku ini Mark Manson membagi 9 sembilan sub bab, adapaun sub bab sebagai berikut Bab 1 Jangan Berusaha Bab 2 Kebahagiaan itu Masalah Bab 3 Anda tidak istimewa Bab 4 Nilai Penderitaan Bab 5 Anda selalu memilih Bab 6 Anda keliru tentang semua hal, tapi, sayapun befitu Bab 7 Kegagalan adalah Jalan untuk Maju Bab 8 Pentingnya Berkat Tidak Bab 9 
Dan Kemudian Anda Mati Mark Manson, blogger yang punya berjuta-juta pembaca mengawali bukunya dengan kisah hidup Charles Bukowsky, seorang penulis novel dan ratusan puisi yang popularitasnya melampaui harapan setiap orang terutama ekspetasinya sendiri. Disebutkan, Bukowski dengan kemampuan sederhananya untuk jujur, tidak pernah mencoba untuk menjadi selain dirinya sendiri dengan mengakui hal-hal buruk sekalipun dan membagikannya tanpa segan dan ragu. Karyanya yang pada awalnya dicap menjijikkan, sangat hancur, tidak bermoral, ternyata berhasil jadi pemenang karena Bukowsky merasa “nyaman” dengan cerminan dirinya yang dianggap sebuah kegagalan dan merasa masa bodoh dengan kesuksesan. Dengan berslogan “Jangan Berusaha”, Bukowsky tidak mengubah diri jadi seperti yang diinginkan orang melainkan jadi dirinya sendiri hingga menang. Manson menyikapi kisah ini dengan sebuah pernyataan bahwa kunci kehidupan yang baik memang bukan tentang memedulikan lebih banyak hal tapi tentang memedulikan hal sederhana, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak, dan penting saja. Mengapa? Karena ketika kita kurang memedulikan sesuatu kita justru mengerjakan hal itu dengan baik. Dengan kata lain bersikap bodo amat sesungguhnya akan menghasilkan hal yang besar yang membuat kita memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan. Kemudian, bodo amat ini lebih jauh oleh Manson dijabarkan dalam 3 buah seni 1. Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh, masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda dan menikmatinya hingga sampai ke tujuan kita. 2. Untuk bisa mengatakan bodo amat pada kesulitan, pertama kita harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan itu. Jadi, pada hal sepele katakan bye-bye! 3. Entah kita sadari atau tidak, kita biasanya memilih suatu hal untuk diperhatikan dan ini akan terus membaik mengikuti tingkat kedewasaan. Kebahagiaan Itu Masalah Manson menyebutkan bahwa kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Yang mana kadangkala masalah ini sederhana saja dan konsepnya sama selesaikan masalah lalu berbahagialah! Tapi, ternyata beberapa dari kita menyikapi tak sesederhana ini. Karena kita biasanya Menyangkalnya mengingkari kenyataan sehingga menuntun ke kerapuhan dan pengekangan mentalitas sebagai korban memilih meyakini bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini padahal bisa jadi kita mampu menghadapi, sehingga menggiring kita pada ketidakberdayaan dan keputusasaan. Kebahagiaan yang dikatakan Manson yang tumbuh dari masalah inilah yang membutuhkan perjuangan yang akan menentukan kesuksesan di masa depan. Kita Tidak Istimewa Manson kemudian menyadarkan pembacanya, bahwa sejatinya tidak ada dari kita yang istimewa. Karena pada kenyataannya menanamkan keyakinan pada orang bahwa mereka istimewa tidak lantas menjadikan satu populasi penuh dengan orang macam Bill Gates atau Martin Luther King, misalnya. Tapi justru bisa menciptakan tampilan kepercayaan diri di level delusional. Dan meyakinkan diri sebagai makhluk spesial adalah strategi yang gagal. Lantaran hanya akan membuat kita tinggi hati dan bukan merasa happy. Pasalnya, pengukuran yang benar tentang penghargaan diri itu bukanlah jika seseorang merasakan pengalaman positifnya tapi justru pengalaman negatifnya. Dan kemalangan serta kegagalan sungguh berguna dan bahkan diperlukan untuk membangun seseorang menjadi orang dewasa yang tangguh dan sukses nantinya. Jadi, meski terdengar membosankan dan biasa saja, menurut Manson mengapresiasi pengalaman sederhana dalam hidup dan penerimaan terhadap eksistensi diri yang sedang-sedang saja, akan membebaskan kita untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin kita selesaikan tanpa penilaian atau ekspetasi yang berlebihan. Nilai Penderitaan Manson menjabarkan tentang self improvement yang sesungguhnya adalah dengan memprioritaskan dan memilih nilai-nilai yang lebih baik untuk dipedulikan. Lantaran, ketika kita peduli pada hal yang lebih baik maka kita akan mendapatkan masalah yang lebih baik sehingga hidup yang kita jalani akan jadi lebih baik lagi. Kita Selalu Memilih Dalam buku setebal 243 halaman dan bersampul warna orange ini, Manson juga mengingatkan bahwa sebagai bagian dari hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis dan bebas maka kita semua mesti berhadapan dengan berbagai pandangan termasuk orang yang berseberangan dengan kita. Kita kemudian disarankan untuk memilih pertempuran dengan hati-hati sambil terus mencoba sedikit berempati terhadap mereka yang kita sebut “lawan”. Juga, sebaiknya mendahulukan nilai kejujuran dan keterbukaan serta menerima keraguan yang muncul atas nilai merasa paling benar. Kamu Keliru 
dan Saya pun Begitu Manson menggarisbawahi lagi hukum kebalikan, semakin kita menerima ketidakpastian dan ketidaktahuan akan sesuatu, kita akan merasa nyaman karena tahu persis yang kita tahu. Manusia yang yakin dirinya mengetahui semua tidak akan mempelajari sesuatu pun. Demikian juga keterbukaan untuk mengakui kesalahan harus ada terlebih dahulu jika kita menginginkan perubahan atau pertumbuhan. Sehingga sebelum kita mencermati nila-nilai dan prioritas dan kemudian mengubahnya jadi lebih baik, pertama kita harus meragukannya lalu mengakuinya. Dan sebaiknya kita mendefinisikan ulang ukuran kita dengan cara yang biasa saja, jangan jadi unik juga istimewa. Pilih identitas yang biasa saja, misalnya seorang ibu, suami, rekan kerja, teman, atau penikmat makanan. Kegagalan adalah Jalan untuk Maju Prinsip “lakukan sesuatu” menjadikan kegagalan tidaklah penting lagi. Ketika standar kesuksesan hanya “melakukan sesuatu” kita akan mendorong diri untuk lebih maju lagi. Kita merasa bebas untuk gagal dan kegagalan inilah yang menggerakkan kita ke menelaah hal ini dan memberikan kesimpulan bahwa kita adalah sumber inspirasi bagi diri kita sendiri. Kita bisa melakukan apa saja untuk menginspirasi motivasi agar tetap ada bersemayam di diri. Pentingnya Berkata Tidak Manson mengedepankan perlunya berkata tidak untuk menolak sesuatu agar kita tidak kehilangan alasan untuk bertahan. Karena menghindari penolakan akan memberikan kenikmatan sesaat yang membuat kita tanpa kemudi dan tanpa arah jangka panjang. Jadi untuk mengapresiasi sesuatu kita harus membatasi diri sendiri. 
dan Kemudian Kita Tiada Tanpa kita sadari kepongahan seringkali melucuti perasaan ke-Tuhan-an kita dan menarik semua perhatian ke dalamnya, membuat kita merasa seakan-akan kitalah pusat dari semua masalah yang ada di alam semesta. Bahwa kita mengalami ketidakadilan dan bahwa kita berhak mendapatkan yang paling besar dari pada orang lain hingga kita
. tiada lagi di dunia. Finally
. Mark Manson yang menuliskan argumentasinya dengan jujur, apa adanya, lugas tapi terstruktur ini membuat kita menyadari diri bahwa kita tak sempurna dan ada batasan yang seharusnya bisa kita terima. Dan, sebaiknya kita menerima itu semua, mengakrabinya, berhenti untuk lari dan mulai menemukan nyali dan rasa percaya diri hingga terwujud apa yang kita cari. Hiduplah dengan apa adanya tanpa perlu terlalu peduli pada hal yang seharusnya tak perlu dipedulikan. Karena berprinsip bodo amat itu sesungguhnya menyenangkan dan bermanfaat. Jadi terkait dengan ini, seberapa kerasnya nyinyiran dan cibiran hendaknya saya pakai hukum kebalikan. Bahwa, saya sendirilah yang menganggap itu negatif. Saya keburu menilai itu buruk. Padahal justru komentar-komentar itu akan menjadikan saya menjadi lebih baik dari hari ke hari dan terus melangkah maju. OLEH ROBY ROSIHAN RAMAZETTY, Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Penulis Mark MansonJudul Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodo AmatJudul Asli The Subtle Art Of Not Giving A F*uck Penerjemah F. Wicakso Penerbit PT. Gramedia Widiasarana IndonesiaTahun Terbit 2018Tebal 246 HalamanOleh Rofita Kurrota'Ayuni Buku ini merupakan buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail, penulisnya adalah Mark Manson seorang blogger terkenal dengan berjuta-juta pembaca. Buku ini merupakan buku self improvement, yang mengulas fakta-fakta seputar kehidupan sosial. Ketika membaca judul buku ini, saya berfikir bahwa buku ini akan membawa kita menuju manusia individulisme yang cuek akan segala sesuatu hal. Hingga saya penasaran mengapa buku seperti ini bisa menjadi buku terlaris di New York Times, apa spesialnya?Di Bab Pertama Mark menuliskan kisah tentang seseorang penulis yang bernama Charles Bukowski. Bukowski adalah seorang pecandu alkohol, penjudi kronis, kasar, kikir, tukang utang dan hari-harinya dipenuhi dengan hal-hal buruk hingga di tolak beberapa penerbit, hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang menawarinya untuk bekerja sama, hal tersebut merupakan jalan yang mengantarkannya menjadi penulis yang sukses dan kaya raya. Saya berfikir buku itu buku yang aneh, kok buku self improvement tapi isinya begini? 1 2 3 4 Lihat Sosbud Selengkapnya Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat pantas mendapatkan pengakuan sebagai salah satu buku self-help terbaik. Ia membantu kita bukan dengan memotivasi untuk berpikir positif atau bersikap optimistis, melainkan melihat diri dan peristiwa di sekitar kita seutuhnya, secara realistis. Realistis di sini berarti, seperti kata Manson, menerima bahwa beberapa penderitaan memang mustahil untuk dihindari. Dan, ketika bisa “nyaman” dengan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, kita tak terkalahkan pada level spiritual yang paling dasar. Manson mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya. Menurut Manson, inilah sumber kekuatan yang paling nyata. “Inilah buku yang membuat Anda bergerak secara ringan tak peduli seberapa berat beban Anda, beristirahat dengan lebih mudah ditemani ketakutan terbesar Anda, menertawakan air mata Anda yang saat tumpah, bercucuran,” tulis Manson. Tapi, mungkin, seperti banyak pembaca lain, Anda bertanya-tanya mengapa kita mesti bersikap masa bodoh? Setelah membaca buku ini kita tahu, yang dimaksud Manson adalah pentingnya memilih hal-hal tertentu untuk kita pedulikan dan untuk tidak kita pedulikan. Ini tentang memilih nilai-nilai yang ingin dan rela kita perjuangkan. Foto-foto Iklan Kompas/ Iwan Andryanto. Manson menjelaskan tiga “seni” tentang apa yang dimaksudkannya dengan masa bodoh. Pertama, masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. Kedua, untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan. Ketiga, entah disadari ataupun tidak, Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan. Manson adalah pencerita yang baik dan pemilih kisah yang jitu. Ia membagi buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat menjadi 9 bab. Ide-ide pokoknya tegas. Gaya penulisannya lugas, humoris, dan sarkastis. Manson juga memilih ilustrasi-ilustrasi yang terasa tepat untuk mengantar kita sampai pada gagasannya. Ia berkisah, misalnya, tentang Letnan Onoda dari Jepang yang bergerilya di pulau kecil di Filipina selama hampir 30 tahun, Dave Mustaine yang didepak dari Metallica dan “membalas dendam” dengan membuat bandnya sendiri, atau Picasso yang memberi harga tidak masuk akal untuk selembar tisu yang digambarnya di sebuah kedai. Semua menuntun kita pada pelajaran-pelajaran yang penting. Ada satu bab menarik dalam buku ini, bagian tentang kematian. Manson mengawalinya dengan kisah traumatis, ketika sahabatnya tewas karena terjun dari tebing. Poin bab ini terletak pada perlunya keberanian dan keterbukaan untuk menghadapi kenyataan mengenai kematian kita sendiri. Bukan hanya karena kematian tak terelakkan, tetapi terutama karena semua pengalaman dan hal-hal di dalam hidup hanya akan jadi bermakna karena suatu hari kita akan mati. Jadi, hiduplah sehidup-hidupnya dan rengkuhlah kematian sebagai bagian dari hidup.

unsur intrinsik novel sebuah seni untuk bersikap bodo amat